agung

“Apa Kabar Alumni?” edisi ketiga kali ini mewawancara mantan ketua HMHI UI, Agung Pamungkas, mahasiswa HI UI angkatan 2008. Saat ini Kak Agung menjabat sebagai Senior Policy Officer in Education and Science Australian Embassy Jakarta. Wawancara mendalam ini membahas berbagai hal terkait kehidupan Kak Agung mulai dari kehidupan karier hingga arti HMHI bagi Kak Agung.

(Catatan: Wawancara di bawah ini telah mengalami proses penyuntingan untuk panjang dan kejelasan artikel).

HMHI: Boleh diceritakan bagaimana perjalanan karier Kak Agung setelah lulus dari HI UI sampai sekarang menjabat sebagai Senior Policy Officer in Education and Science Australian Embassy Jakarta?
Kak Agung: Gue angkatan 2008, lulus tahun 2012 dan kebetulan waktu itu langsung kerja di konsultan PR namanya Edelman. Kebetulan dapat tawaran dari senior HI yang juga kerja di sana. Setelah satu tahun empat bulan kerja, langsung S2. Waktu itu ambil beasiswa di Nottingham jurusan International Social Policy. Terus setelah satu tahun balik kerja di proyek European Union (EU) namanya SHARE (European Union Support to Higher Education in ASEAN Region). Proyek tersebut merupakan dukungan EU terhadap higher education di ASEAN, based in Jakarta selama satu tahun empat bulan. So, the perks of working with ASEAN lo punya kesempatan untuk travelling. Setelah itu langsung ke Australian Embassy Jakarta. Di sini gue udah kerja lima bulan, sebenarnya pindah dari proyek EU karena alasan di sana sangat sedikit terekspos dengan substansi, lebih ke administrasi, keuangan, dan bantu hal lain yang menurut gue gak substansial. Gue pengen yang lebih terjun ke pekerjaan, seperti memberikan policy advice dengan melakukan riset. Jadi ilmu HI terpakai and they really take into account apapun riset kita.

Waktu kuliah gue juga pernah ikut exchange di National University of Singapore (NUS) satu semester, programnya Temasek Foundation NUS. Untuk kesempatan ikut exchange, kalian sering-sering main ke International Office UI, mereka buka tiap semester. Selain exchange, di waktu liburan semester tujuh gue juga berkesempatan magang di Kemenlu. Awal ceritanya adalah waktu itu gue jadi salah satu delegasi Indonesia untuk G-20 Youth Summit ke Toronto tahun 2012 yang dikelola oleh Kemenlu. Setelah itu ditawarkan kesempatan magang untuk isu-isu economic development. Pengalaman itu jadi memecahkan stereotip kalau interns kerjanya cuman fotokopi, karena kita literally dilibatkan dalam segala hal, dan kebetulan atasan kita memang sangat concern akan professional development ini. Jadi gue kayak ditugaskan untuk translate dokumen di bawah supervisinya terus dilibatkan dalam acara-acara Kemenlu tanpa dibedakan antara interns dan diplomat, yang penting kerja kita bagus dan gue sangat sangat senang.

Menjelang skripsi, dulu ide skripsi gue adalah multikulturalisme sesuai dengan peminatan masyarakat transnasional. Gue berkesempatan untuk riset langsung ke US terkait perspektif multikulturalisme masyarakat Amerika Serikat pasca tragedi 9/11 terhadap Islam dan Muslim. Kebetulan waktu itu dapat program 5 minggu YSEALI dari US Embassy dengan topik religious pluralism. Terus gue bilang kayak “Why not gue ambil mumpung dapat kesempatan ke Amerika, dan waktu itu dosen pembimbing gue Mbak Riris juga menyarankan, sekalian buat research question“. Literally pas banget. Jadi hemat ongkos terus benar-benar dapat data primer.

Kalau boleh cerita, sebenarnya di angkatan 2008 yang kariernya HI banget tuh cuman beberapa dan itu termasuk gue. Sekarang kalau ditanya, “Lulusan HI kerja ingin jadi apa?” Kalau gak di Kemenlu, di embassy, atau di International Organization kan, tapi angkatan gue juga banyak yang ke management consulting. Jadi memang gue mau menggunakan academic background HI di bidang pekerjaan yang relevan gitu. Kalau kerja di Kemenlu sih belum tertarik ya. Dulu sih pernah apply, tapi prosedurnya sangat ribet dan waktu daftar ternyata harus pake ijazah asli, sedangkan waktu itu ijazah gua belum keluar. Jadi sebenarnya salah satu motivasi gue dalam karier, selain mengejar challenges dan professional development, juga kejar travelling. Travelling gratis keren gak sih? Don’t worry lo akan dapat kesempatan banyak banget kok di HI.

HMHI: Melihat dari berbagai pengalaman Kak Agung, apa yang melatarbelakangi ketertarikan Kak Agung dalam bidang pendidikan?
Kak Agung: Prinsip gue sih life before 30 tuh masih mencari expertise lo akan di mana. Terus gue explore kira-kira di dunia pembangunan bidang apa yang gue inginkan. Waktu itu tertarik untuk governance, biasalah labil anak umur 25; Pengen governance, pengen international politics, dengar climate change pengen climate change juga. Kebetulan waktu itu dapat job higher education. Mengapa higher education? Gue lihat sih isunya sangat menarik dengan tujuan untuk mendukung mobility di ASEAN. Jadi ketika kamu lulus, bisa kerja di negara-negara ASEAN. Aspire gue di tahun 2020 atau 2030 generasi kalian ini setelah lulus bisa kerja di Singapura dengan upah yang sama atau kalian bisa kerja di Myanmar dengan izin yang mudah. Akhirnya, gue concern di higher education dan waktu itu sih lumayan menarik karena banyak travel terus networkingnya sangat baik, dan professional development nya sangat banyak. Kalian terekspos dengan konsultan, stakeholder, setelah itu buat report, project management. Jadi gue sangat suka dengan isu-isu pembangunan, khususnya higher education. Terus sekarang gue fokus ke TVET (Technical and Vocational Education Training) yang sekarang menjadi prioritasnya pemerintah. Pencetusnya Presiden Jokowi untuk mengembangkan TVET Indonesia di ASEAN.

HMHI: Bagaimana kontribusi ilmu HI dan pengalaman kuliah lainnya yang dirasa berpengaruh dalam karier Kak Agung saat ini?
Kak Agung: Kontribusi ilmu HI gue rasa ada tiga hal. Pertama, critical thinking. Di HI selama empat tahun belajar tentang bagaimana berpikir kritis, dan itu sangat bisa diaplikasikan di dunia pekerjaan dan bisa gue bandingkan dengan let’s say lulusan-lulusan yang bukan HI. Ada orang yang kerja memang take it as it is, kayak “Ok gue kerjain apa yang dikasih bos” tapi gue gak bisa kayak gitu. Kalau memang something’s not right ya gue ngomong dan kalau menurut gue analisis yang dia kasih tidak make sense, ya kita kasih critical thinking and advice. Kedua, soft skill, communication, confidence untuk bicara dalam bahasa Inggris bisa didapat di dunia HI. Selama empat tahun kuliah sih kayaknya as long as kita menanyakan sesuatu yang make sense, tanpa memedulikan bahasa atau grammar, yang penting paham dan straight forward, langsung bisa diterima sama dosennya. Soft skills itu sih negosiasi, anak HI bisa banget. Diplomasi dan negosiasi itu yang jurusan lain gak punya. Sama satu lagi networking, karena HI UI network-nya luas.

HMHI: Apa arti HMHI menurut Kak Agung? Apakah ada kendala dalam mengurus HMHI? Adakah pesan untuk anggota HMHI saat ini?
Kak Agung: Arti HMHI buat gue sih merupakan platform buat belajar dan berorganisasi. Prinsip gue adalah bagaimana dengan berorganisasi kita bisa memberikan sesuatu yang memang bermanfaat, tidak harus dengan turun ke jalan, seperti analisis tulisan. Jadilah, akhirnya gue memutuskan maju untuk ketua HMHI. Terus ya gue senang banget dengan HMHI, orang-orangnya pinter. Pengurusnya tuh setiap ditugaskan sesuatu pasti selesai. Jadi ya gue happy aja sebagai ketua HMHI pada saat itu. Waktu itu proker kita lumayan banyak yang baru dan menarik, salah satunya Indonesia Foreign Policy Review (IFPR). Nah, proker itu pertama kali ada di HMHI gue. Selain itu kita juga balance, ada event-event musik, bazar, kuliah umum, lomba, dan lainnya. Jadi ketua HM tuh juga dianggap keren di fakultas, kalau deketin cewek lumayan bargain-nya tinggi hahaha.

Pesan untuk anggota-anggota HMHI sekarang, gue sangat suka quotes ini, “Masa terbaik seseorang adalah masa terbaik kalian dapat menggunakan kebebasan kalian.” Jadi, banyak orang yang terkungkung oleh stereotip “Ah pengen kerja di BCG karena dia juga di sana” sedangkan we’re not happy dalam menjalankannya. Kita harus mendengarkan benar-benar apa yang ingin kita jalani dan apa yang ingin dicapai dalam hidup. Karena sampai sekarang pun gue merasakan kalau uang gak bisa membeli kebahagiaan. Segiat apapun kita kerja, tapi kalau kita ga happy dengan apa yang kita kerjakan, buat apa.

HMHI: Bagaimana cara Kak Agung menyeimbangkan sisi akademis, organisasi, dan juga aktivitas lainnya?
Kak Agung: Prinsip gua sih time-management yang baik, Karena gue sangat terstruktur orangnya. Jadi gue dulu punya jadwal sendiri. Let’s say hari Senin itu dari jam berapa sampai jam berapa gue harus ngapain. Walaupun terkadang sebenarnya implementasinya kurang berjalan dengan baik, tapi gue stick ke jadwal itu dan terbawa sampai sekarang. Terus let’s say kalau gak ada waktu, ya udah kita bilang ke teman-teman hari ini jadwal kita ngapain aja dan mereka paham kok. Anak-anak HI kan biasanya semua kayak gitu di angkatan gue. Time management mereka sangat baik. Misalnya ketemu sama anak-anak HI yang ada di BEM atau di organisasi lain, mereka pasti akan nanya in advance “Ini rapatnya kapan? Di mana? Tentang apa?” pasti itu penting banget buat mereka. Karena kalau misalnya itu gak ada, buat apa mereka datang. Buat gue sendiri juga kayak gitu, “Kalian mengundang gue tujuannya apa? Kapan? Di mana? Terus apa yang harus dilakukan?” Intinya sih harus tahu apa yang harus dilakukan pada hari itu dan ke depannya.

HMHI: Last question, apakah ada harapan bagi diri sendiri atau pesan yang ingin dibagikan kepada mahasiswa HI UI?
Kak Agung: Untuk diri gue dulu kali ya, jadi gua udah buat vision board. Inginnya, my life before 30 menjadi generalis, mencoba berbagai isu. Nanti life after 30, starting 30, gue harus punya expertise yang memang gue inginkan, seperti sekarang gue memutuskan untuk higher education. Mungkin umur 27 atau 28 akan beda lagi isunya, tapi di umur 30 gue harus punya expertise yang bisa dijual dan dikasih ke masyarakat. Intinya ingin memberikan kontribusi buat masyarakat.

Harapan buat kalian, anak-anak HI UI, junior-junior gue di HI UI, intinya jangan pernah ngikutin apa yang orang lain capai, ikutilah apa yang kalian ingin untuk mengejar cita-cita. Karena intinya, kalau kalian terus mengikuti apa yang orang lain lakukan pada akhirnya kalian tidak bahagia sih menurut gua, sama aja pointless dalam hidup. Jadi, kejarlah apa yang ingin kalian capai dan lakukanlah sehingga kalian bisa bahagia. Happy! Intinya happy! Perbanyak juga networking dengan senior dan alumni kalau bisa. Salah satunya kayak wawancara yang kalian lakukan sekarang. Karena menurut gue, alumni berpotensi punya peran yang besar. Let’s say kalian mau buat acara dan mengundang diplomat Australia, kalian bisa kontak gue. Pesan satu lagi, jangan terlalu cepat ambil keputusan untuk S2. Sebenarnya waktu itu gue gak menyesal ambil S2 setelah satu tahun kerja, tapi setelah gue pikirkan lagi, akan lebih baik kalau misalnya gue punya pengalaman kerja dua sampai tiga tahun, setelah itu baru memutuskan apa yang gue ingin spesialisasikan. Well, gue bukannya menyarankan kalian untuk tidak langsung melanjutkan S2, itu terserah keputusan dalam hidup kalian. Akan tetapi, banyak banget mahasiswa yang setelah lulus S1 terus ingin langsung S2, tapi waktu ditanya, “Memangnya mau S2 jurusan apa?” jawabannya, “Belum tahu”. Terus setelah kita kerja, frankly speaking, employer itu biasanya mencari yang sudah punya expertise dan working experience. Mereka gak akan mencari lulusan S2 yang belum punya pengalaman apa-apa karena bargain kita akan sangat sangat kecil.